Nama Spiritia

Baru saja tahu terinfeksi HIV? Klik di sini...

Versi telepon genggam

Lembaran Informasi 501 Diperbarui 7 Februari 2014

Virus Sitomegalia (CMV)

Logo Acrobat Unduh versi PDF

Apa CMV Itu?

Virus sitomegalia (cytomegalovirus/CMV) adalah virus yang dapat mengakibatkan infeksi oportunistik (IO – lihat Lembaran Informasi (LI) 500). Virus ini sangat umum. Sampai 85% masyarakat di AS terinfeksi CMV pada saat mereka berusia 40 tahun. Statistik untuk Indonesia belum diketahui. Sistem kekebalan tubuh yang sehat mengendalikan virus ini, sehingga tidak mengakibatkan penyakit.

Waktu pertahanan kekebalan menjadi lemah, CMV dapat menyerang beberapa bagian tubuh. Kelemahan tersebut dapat disebabkan oleh berbagai penyakit termasuk HIV. Terapi antiretroviral (ART) sudah mengurangi angka penyakit CMV pada Odha secara bermakna. Namun, kurang lebih 5% Odha masih mengalami penyakit CMV.

Penyakit yang paling lazim disebabkan CMV adalah retinitis. Penyakit ini adalah kematian sel pada retina, bagian belakang mata. Kematian sel ini dapat menyebabkan kebutaan secara cepat jika tidak diobati. CMV dapat menyebar ke seluruh tubuh dan menginfeksi beberapa organ sekaligus. Risiko penyakit CMV tertinggi waktu jumlah CD4 di bawah 50. Penyakit CMV jarang terjadi dengan jumlah CD4 di atas 100.

Tanda pertama retinitis CMV adalah masalah penglihatan seperti titik hitam yang bergerak. Ini disebut ‘floater’ (katung-katung) dan mungkin menunjukkan adanya radang pada retina. Kita juga mungkin memperhatikan cahaya kilat, penglihatan yang kurang atau bengkok-bengkok, atau titik buta. Beberapa dokter mengusulkan pemeriksaan mata untuk mengetahui adanya retinitis CMV. Pemeriksaan ini dilaksanakan oleh ahli mata. Jika jumlah CD4 kita di bawah 200 dan kita mengalami masalah penglihatan apa saja, sebaiknya kita langsung menghubungi dokter. Untuk informasi lebih lanjut mengenai masalah penglihatan, lihat LI 621.

Beberapa Odha yang baru saja mulai memakai ART dapat mengalami radang dalam mata, yang menyebabkan kehilangan penglihatan. Masalah ini disebabkan oleh sindrom pemulihan kekebalan (lihat LI 483).

Sebuah penelitian baru memberi kesan bahwa orang dengan infeksi CMV aktif lebih mudah menularkan HIV-nya pada orang lain.

Infeksi CMV dapat menyebabkan peradangan (lihat LI 484) walau tidak ada gejala penyakit CMV. CMV dapat diaktifkan kembali pada banyak orang sebagai bagian dari penuaan yang normal. Untuk mengurangi peradangan, CMV sebaiknya diobati, walau tidak ada gejala.

Bagaimana CMV Diobati?

Pada awal, pengobatan untuk CMV meliputi infus setiap hari. Karena harus diinfus setiap hari, sebagian besar orang memasang ‘keran’ atau buluh obat yang dipasang secara tetap pada dada atau lengan. Dulu orang dengan penyakit CMV diperkirakan harus tetap memakai obat anti-CMV seumur hidup.

Setelah mulai penggunaan ART, pasien dapat berhenti memakai pengobatan CMV jika jumlah CD4-nya di atas 150 dan tetap begitu selama sedikitnya tiga bulan. Namun ada dua keadaan yang khusus:

  1. Sindrom pemulihan kekebalan dapat menyebabkan radang yang berat pada mata Odha walaupun sebelumnya tidak pernah sakit CMV. Dalam hal ini, biasanya pasien diberikan obat anti-CMV bersama dengan ART-nya.
  2. Bila jumlah CD4 turun di bawah 50, risiko penyakit CMV meningkat.

Apakah CMV Dapat Dicegah?

Gansiklovir disetujui untuk mencegah (profilaksis) CMV, tetapi banyak dokter enggan meresepkannya. Mereka tidak ingin menambahkan hingga 12 kapsul sehari pada pasien. Lagi pula, belum jelas apakah profilaksis ini bermanfaat. Dua penelitian besar menghasilkan kesimpulan berbeda. Akhirnya, ART dapat menahan jumlah CD4 pada tingkat yang cukup tinggi sehingga yang memakainya tidak akan sakit CMV.

Bagaimana Kita Dapat Memilih Pengobatan CMV?

Ada beberapa masalah yang sebaiknya dipertimbangkan jika memilih pengobatan penyakit CMV aktif:

Apakah ada risiko pada penglihatan? Kita harus segera bertindak agar kita tidak menjadi buta.

Seberapa efektif pengobatan? Gansiklovir suntikan adalah pengobatan CMV yang paling efektif secara keseluruhan. Bentuk susuk sangat baik untuk menghentikan retinitis. Namun susuk hanya bekerja pada mata yang disusuk.

Bagaimana obat diberikan? Pil paling mudah dipakai. Pengobatan yang dimasukkan langsung ke dalam pembuluh darah membutuhkan suntikan atau pembuluh obat, dan hal ini dapat menimbulkan infeksi. Suntikan pada mata berarti menyuntik jarum langsung pada mata. Bentuk susuk, yang bertahan enam sampai delapan bulan, membutuhkan sekitar satu jam rawat jalan.

Apakah terapinya lokal atau sistemik? Terapi lokal hanya berpengaruh pada mata. Retinitis CMV dapat cepat menyebar dan mengakibatkan kebutaan. Karena itu, penyakit ini diobati dengan manjur waktu pertama ditemukan. Obat baru dalam bentuk suntikan dan susuk menempatkan obat langsung dalam mata, dan menimbulkan dampak terbesar pada retinitis.

Penyakit CMV juga dapat ditemukan pada bagian tubuh lain. Untuk menanggulangi di bagian tubuh lain, kita membutuhkan terapi sistemik (seluruh tubuh). Pengobatan suntikan atau infus, atau pil valgansiklovir, dapat dipakai.

Apa efek sampingnya? Beberapa obat CMV dapat merusak sumsum tulang atau ginjal. Ini mungkin membutuhkan obat tambahan. Obat lain meliputi infus selama waktu yang lama. Bahas efek samping pengobatan CMV dengan dokter.

Apa saran pedoman? Baru-baru ini ada beberapa pedoman profesional yang menyarankan penggunaan valgansiklovir sebagai pengobatan pilihan untuk pasien yang tidak berisiko segera kehilangan penglihatannya.

Garis Dasar

Penggunaan ART adalah cara terbaik untuk mencegah CMV. Jika jumlah CD4 kita rendah, dan kita mengalami gangguan penglihatan APA PUN, kita harus langsung periksa ke dokter!

Pengobatan langsung pada mata memungkinkan pengendalian retinitis CMV. Dengan obat CMV baru, kita dapat menghindari buluh obat yang dipasang pada tubuh kita dan infus harian.

Sebagian besar orang dapat menghentikan penggunaan obat CMV jika jumlah CD4-nya naik dan tetap di atas 150 waktu memakai ART.

Ditinjau 7 Februari 2014 berdasarkan FS 504 The AIDS InfoNet 4 Februari 2014