Nama Spiritia

Baru saja tahu terinfeksi HIV? Klik di sini...

Versi telepon genggam

Diagnosis dan pengobatan retinitis CMV di rangkaian terbatas sumber daya dapat dan harus dicapai Logo Acrobat Unduh versi PDF
Oleh: Michael Carter, aidsmap.com Tgl. laporan: 3 Desember 2007

Diagnosis dan pengobatan retinitis CMV di negara miskin sumber daya adalah realistis, tetapi tidak diperhatikan dalam rencana peningkatan pengobatan HIV yang ada sekarang ini. Hal ini menurut laporan para peneliti dari Medecins Sans Frontieres (MSF), yang menulis dalam jurnal PLoS Medicine edisi Desember 2007.

Cytomegalovirus (CMV) adalah anggota keluarga virus herpes dan sering menjadi penyebab kebutaan pada Odha dengan penyakit HIV lanjut di negara barat sebelum terapi antiretroviral (ART) disediakan.

Sejak ART ditemukan, kejadian retinitis CMV di negara seperti Inggris menjadi jarang. Lebih lanjut, di negara industri maju sekarang sudah tersedia tata cara untuk diagnosis dan pengobatan retinitis CMV yang mencakup pemeriksaan retina untuk pasien dengan jumlah CD4 rendah serta pengobatan anti-CMV yang efektif, contohnya gansiklovir, dengan ART secara bersamaan.

Tetapi di rangkaian miskin sumber daya, retinitis CMV adalah penyakit yang diabaikan, yang kurang didiagnosis dan kurang diobati. Bahkan diagnosis dan penatalaksanaan penyakit tersebut tidak ada dalam pedoman pengobatan HIV WHO, dan kondisi ini juga tidak disebut dalam program “Vision 2020” WHO.

Tidak diketahui berapa pasien HIV-positif di rangkaian terbatas sumber daya yang terdampak oleh retinitis CMV. Oleh karena itu para peneliti dari MSF mengamati prevalensi kondisi tersebut pada pasien yang menerima perawatan dari proyek HIV di Kamboja, Afrika, Lesoto, Myanmar, Thailand dan Cina. Antara dua persen dan 32 persen pasien yang menerima perawatan HIV dari MSF ditemukan memiliki kondisi tersebut.

Standar terbaik untuk retinitis CMV adalah pemeriksaan retina melalui pembesaran pupil oleh petugas klinis yang ahli dengan memakai optalmoskop.

Retinitis CMV dicirikan dengan retina menjadi putih tebal. Bila tidak diobati retinitis CMV akan merusak semua retina dalam tiga hingga enam bulan, mengakibatkan kebutaan yang permanen.

Gejala umum retinitis CMV termasuk ‘floaters’ (katung-katung seperti titik hitam yang bergerak) atau penglihatan kabur. Tetapi membatasi pemeriksaan retina hanya untuk pasien yang mengeluh tentang masalah penglihatan tidak cukup, dan di rangkaian kaya sumber daya disarankan agar semua pasien dengan jumlah CD4 di bawah 50 (saat risiko retinitis CMV menjadi nyata) harus melakukan pemeriksaan retina secara rutin.

 “Kami berpendapat bahwa pemeriksaan skrining retina secara sistematis seharusnya merupakan kewajiban yang mendasar untuk perawatan terkait HIV di rangkaian miskin sumber daya”, para peneliti menulis. Mereka mencatat, “dalam penelitian kami baru-baru ini di Myanmar 31% pasien yang didiagnosis dengan retinitis CMV tidak bergejala”.

Keberhasilan pengobatan retinitis CMV membutuhkan pengobatan khusus untuk CMV dan antiretroviral (ARV).

Gansiklovir adalah terapi CMV terbaik saat ini. Obat ini dapat dipakai sebagai terapi CMV sistemik atau langsung disuntikkan ke dalam mata sebagai pengobatan lokal untuk retinitis CMV. Valgansiklovir mencapai tingkat yang sama dalam darah serupa dengan gansiklovir dan mempunyai kelebihan karena pengobatan dipakai secara oral.

Tetapi pertimbangan biaya berarti bahwa suntikkan langsung ke dalam mata adalah satu-satunya pengobatan untuk retinitis CMV yang tersedia di rangkaian terbatas sumber daya. Terapi ini harganya 57 sen AS per minggu dibandingkan dengan 57 dolar AS per hari untuk valgansiklovir oral.

Lebih lanjut akses terhadap suntikan mata gansiklovir di rangkaian terbatas sumber daya adalah sangat terbatas, terutama karena dokter yang memenuhi syarat untuk menangani hal ini sangat langka. Lebih lanjut, suntikan ini menakuti dan menghalangi pasien yang tidak bergejala, yang dapat memperoleh paling banyak manfaat dari terapi ini, untuk mengakses pengobatan.

“Kami berpendapat bahwa pengobatan sistemik dengan valgansiklovir oral harus dipakai secara rutin sebagai strategi pengobatan primer karena (1) pengobatan retinitis CMV sistemik mengurangi penyakit di luar mata; (2) pengobatan sistemik mengurangi kematian; dan (3) dengan hanya memakai pengobatan lokal ada 22% - 33% kejadian retinitis CMV baru pada mata yang tidak diobati”, para peneliti menulis, “gansiklovir disuntik pada mata sebagai strategi pengobatan primer sebenarnya tidak tepat secara medis.”

Dampak apabila retinitis CMV tidak diobati adalah cukup bermakna, menyebabkan kebutaan, mengakibatkan kehilangan pekerjaan, dan akhirnya kematian. Memperluas program pengobatan HIV mungkin berarti bahwa lebih banyak pasien dengan penyakit HIV datang untuk diagnosis dan terapi. Para peneliti berpendapat bahwa banyak dari pasien ini berisiko terhadap retinitis CMV dan bila penyakit ini diobati dan kebutaan yang diakibatkan, akan menyebabkan “kehilangan kepercayaan terhadap pengobatan HIV...dan kejadian yang terburuk adalah mengakibatkan keenganan untuk memulai pengobatan yang menyelamatkan jiwa ini.”

Dua rekomendasi khusus dibuat oleh para peneliti. Pertama, kapasitas diagnosis harus dikembangkan, dengan program pengobatan HIV menetapkan dokter untuk dilatih agar mampu melakukan pemeriksaan retina. l examinations. Optalmoskop yang kuat dan dapat dibawa harganya 1.000 dolar AS lebih sedikit dan sudah berhasil dites di lapangan di Afrika Selatan oleh MSF. Kedua, valgansiklovir harus disediakan dan terjangkau.

“Kematian terkait CMV yang terus berlanjut tidak boleh diabaikan atau diterima sebagai bagian dan kematian HIV lanjut. Pasien tidak boleh dibiarkan rentan terhadap kebutaan sementara dokter sedang mengobati dan mengendalikan infeksi yang mendasar dengan HIV”, para peneliti menyimpulkan.

Ringkasan: Diagnosis and treatment of CMV retinitis in resource-limited settings achievable and a must, say MSF

Sumber: Heiden D et al. Cytomegalovirus retinitis: the neglected disease of the AIDS pandemic. PLoS Medicine 4 (12) e334, 2007.

Edit terakhir: 30 Desember 2007