Interaksi antara efavirenz dan fenitoin menghasilkan tingkat efavirenz tidak terdeteksi dalam darah

Para peneliti AS melaporkan interaksi yang bermakna antara efavirenz dan fenitoin, obat anti epilepsi. Kasus ini dilaporkan dalam jurnal AIDS edisi 2 Januari 2008.

Diketahui bahwa obat antiretroviral (ARV) dan obat yang dipakai untuk mengobati epilepsi berpotensi untuk berinteraksi. Tetapi hanya satu interaksi antara efavirenz dan fenitoin yang pernah dilaporkan.

Tetapi, para dokter di Seattle, AS melaporkan interaksi yang bermakna antara kedua obat. Hal ini berarti bahwa pasien mempunyai tingkat efavirenz yang tidak terdeteksi dalam darah dan pengendalian viral load HIV yang buruk.

Seorang laki-laki berusia 35 tahun yang baru didiagnosis HIV dirujuk ke klinik khusus HIV di Universitas Washington oleh dokternya. Pasien mengalami sariawan di mulut dan turun 45kg selama enam bulan terakhir. Pasien tersebut mempunyai riwayat penyakit kelebihan berat badan (berat badannya pernah mencapai 130kg). Sebagai tambahan, pasien tersebut memakai fenitoin (400mg dua kali sehari) dan pregabalin (150mg dua kali sehari) untuk mengendalikan kejang epileptik.

Pemeriksaan mengungkapkan bahwa berat badan pasien adalah 70kg, sariawan dan wasting (kehilangan berat badan, atrofi otot, lemah dan kehilangan nafsu makan). Tes darah menunjukkan bahwa jumlah CD4-nya hanya 11 dan viral load 1.000.000. Biakan untuk infeksi oportunistik adalah negatif.

Pengobatan percobaan dengan flukonazol (200mg sekali sehari) dimulai untuk dugaan kandidiasis tenggorokan. Flukonazol dapat berinteraksi dengan fenitoin dan oleh karena itu tingkat obat ini dalam darah dipantau. Hal ini membuktikan bahwa tingkat fenitoin ditingkatkan oleh pemberian flukonazol secara bersamaan sehingga dosis fenitoin dikurangi menjadi 200mg dua kali sehari.

Pasien tersebut juga memulai pengobatan profilaksis dengan antibiotik untuk melawan PCP dan MAC.

Setelah tiga minggu, kondisi pasien mengalami kemajuan dan berat badannya bertambah 4,5kg. Terapi antiretroviral (ART) dimulai termasuk efavirenz (800mg sekali sehari), dan FTC/tenofovir (200/300 mg) sekali sehari. Takaran efavirenz ditingkatkan menjadi 800mg karena interaksi yang diketahui antara obat dan rifampicin (yang dipakai pasien sebagai profilaksis terhadap MAC).

Setelah empat hari memakai ART, kepadatan efavirenz selama 14 jam dalam darah dipantau. Tingkat efavirenz adalah tidak terdeteksi. Tingkat efavirenz diukur kembali pada hari ke-14 dan sekali lagi tidak terdeteksi. Pada saat itu, pasien mempunyai viral load 12.400.

Dokter memutuskan untuk menghentikan terapi fenitoin dan menggantinya dengan levetirasetam dan lamotrigin. Dosis efavirenz diturunkan menjadi dosis baku 600mg perhari setelah perubahan pengobatan ini.

Kurang lebih 30 hari setelah ART dimulai, viral load pasien menurun menjadi 921.

Efavirenz, rifampisin dan fenitoin semuanya bermetabolisme dengan memakai jalur P450 di hati. Rifampisin dapat mengurangi tingkat efavirenz hingga 30%, tetapi diharapkan bahwa fenitoin akan mempunyai interaksi yang lebih kecil. Tetapi, para peneliti mencatat bahwa mungkin banyak keragaman kepadatan efavirenz antarpasien .

“Pasien kami yang diberi fenitoin secara bersamaan mengalami penurunan kepadatan efavirenz dalam darah secara bermakna”, komentar para peneliti. Mereka menambahkan, “walaupun laporan sebelumnya menyatakan keberhasilan pemberian efavirenz dan fenitoin secara bersamaan, pemantauan tingkat kepadatan efavirenz dalam darah dan tanggapan virologi secara cermat harus dilakukan karena potensi interaksi antarobat yang mungkin berubah-ubah secara bermakna.”

Ringkasan: Interaction between efavirenz and phenytoin can result in undetectable blood levels of efavirenz

Sumber: Spak CW et al. Clinical interaction between efavirenz and phenytoin. AIDS 22: 164 – 165, 2008.