Nama Spiritia

Baru saja tahu terinfeksi HIV? Klik di sini...

Versi telepon genggam

Inframerah aman untuk pengobatan lesi prakanker di dubur pada Odha dan hasilnya baik Logo Acrobat Unduh versi PDF
Oleh: Michael Carter, aidsmap.com Tgl. laporan: 8 Januari 2008

Pengobatan sinar inframerah (infrared) menyediakan terapi yang aman untuk lesi prakanker di dubur pada Odha. Hal ini berdasarkan penelitian AS yang diterbitkan dalam Journal of Acquired Immune Deficiency Syndromes edisi 1 Januari 2008. Pengobatan ini, yang noninvasif dan hanya memiliki efek samping ringan dan sementara, menyembuhkan lesi prakanker di dubur pada dua pertiga pasien dalam penelitian ini. Yang terpenting adalah bahwa terapi ini dapat diberikan secara aman oleh petugas yang bukan dokter bedah.

Kanker dubur adalah penyebab kesakitan dan kematian yang semakin penting pada Odha. Sebagaimana dengan kanker rahim, kanker dubur diawali dengan lesi prakanker, lesi intraepiteli yang disebabkan oleh jenis virus human papilloma (HPV) yang menyebabkan kanker.

Angka kanker rahim pada masyarakat umum sudah menurun secara bermakna dalam beberapa tahun terakhir karena program skrining dan pengobatan semua lesi prakanker yang terdeteksi. Aspek dari program skrining ini, misalnya sitologi dubur dan anoskopi resolusi tinggi, sudah disesuaikan untuk menskrining pasien terhadap perubahan prakanker dan kanker pada dubur.

Pengobatan yang sangat efektif untuk lesi prakanker rahim adalah sayatan pembedahan (surgical excision). Tetapi hal ini bukanlah pilihan untuk pengobatan lesi dubur karena sayatan sebagian dubur yang besar dapat memberi dampak buruk yang bermakna. Pilihan terapi lain adalah pengobatan dengan sinar laser atau terapi siro (pembekuan).

Pengobatan lain yang berpotensi adalah penggunaan koagulator inframerah. Terapi ini sudah disahihkan untuk pengobatan wasir, penghilangan tato dan kutil pada kelamin di AS. Terapi ini melibatkan penyinaran berdenyut singkat sinar inframerah sempit. Hasilnya adalah jaringan yang mati. Kedalaman jaringan yang mati dapat disesuaikan secara tepat.

Penelitian retrospektif melibatkan 68 Odha dengan lesi prakanker pada dubur yang sebelumnya sudah ditunjukkan oleh koagulator inframerah adalah pengobatan yang aman dan efektif. Hampir tiga perempat dari lesi yang diobati tidak muncul kembali dalam dua tahun dan tidak ada komplikasi yang dilaporkan.

Oleh karena itu para peneliti memutuskan untuk melanjutkan penelitian prospektif di berbagai pusat untuk meneliti lebih lanjut keamanan dan kemampuan untuk ditoleransi. Para peneliti juga melaporkan tentang kemanjurannya. Penelitian ini dikembangkan oleh HPV Working Group of the AIDS Malignancy Consortium (AMC).

Sejumlah 18 pasien (16 laki-laki) dilibatkan dalam penelitian ini. Semuanya adalah HIV-positif, mempunyai lesi dubur prakanker yang dibuktikan dengan biopsi dan sedang memakai terapi antiretroviral (ART) secara stabil. Usia rata-rata adalah 44 tahun, viral load HIV rata-rata adalah 75 dan jumlah CD4 rata-rata adalah 581.

Pengobatan dengan koagulator inframerah disediakan selama anoskopi dengan pembiusan lokal. Pasien dipantau setiap tiga bulan selama satu tahun dan pengobatan diulang pada lesi yang tetap ada. Jumlah CD4 dan viral load dipantau untuk mengamati apakah tanda ini mempengaruhi hasil pengobatan. Tes juga dilakukan untuk menentukan genotipe HPV untuk mengamati apakah genotipe mempengaruhi kemanjuran pengobatan.

Dari 16 pasien yang dipantau selama satu tahun (dua pasien mangkir), sepuluh (63%) menanggapi pengobatan secara menyeluruh dan pemulihan terhadap lesi dubur prakanker. Pada enam pasien sisanya, lesi tetap ada atau muncul kembali.

Sejumlah 44 lesi diobati (rata-rata, 2,2 per pasien), dan dua (66%) sembuh setelah pengobatan pertama.

Walaupun smear PAP adalah tes yang baku untuk mendeteksi perubahan prakanker rahim, manfaat tes untuk mendiagnosis perubahan sel pada anus adalah belum pasti. Para peneliti menemukan bahwa walaupun semua pasien mempunyai perubahan sel prakanker dubur sangat tinggi yang dibuktikan dengan biopsi, kebanyakan smear PAP hanya sedikit yang tidak normal.

Tidak ada hubungan antara jumlah CD4 dan viral load dengan hasil pengobatan, dan genotipe HPV juga tidak mempengaruhi kemanjuran pengobatan.

Pengobatan ini pada umumnya dapat ditoleransi dengan baik. Dua belas pasien melaporkan efek samping ringan hingga sedang termasuk ketidaknyamanan pada dubur, perdarahan dan tarak jangka pendek. Tidak ada efek samping berat dan jangka panjang yang dilaporkan.

“Dalam penelitian ini, kami mendukung laporan tim Goldstone dkk bahwa pengobatan lesi dubur prakanker dengan koagulator inframerah pada pasien Odha adalah aman dan dapat ditoleransi dengan baik. Efek samping yang dilaporkan adalah ringan atau sedang dan digambarkan sebagai kekhawatiran kecil oleh pasien”, komentar para peneliti.

Manfaat lain dari koagulator inframerah ini adalah bahwa penggunaannya tidak membutuhkan staf khusus bedah. Semua petugas yang memakai peralatan ini dinilai dan disertifikasi oleh AMC, tetapi hanya enam adalah dokter bedah, empat ahli kandungan (ginekolog) dan delapan adalah dokter umum.

“Dalam kesimpulan”, peneliti menulis, “koagulator inframerah adalah metode pengobatan lesi prakanker tingkat tinggi di jalur dubur yang dapat ditoleransi dengan baik oleh pasien Odha.” Mereka menambahkan bahwa penelitian yang lebih besar serta kemanjurannya pada pasien Odha dianjurkan.

Ringkasan: Infrared treatment for pre-cancerous anal lesions in HIV-positive patients safe and has good outcomes

Sumber:
Stier EA et al. Infrared coagulator treatment for high-grade anal dysplasia in HIV-infected individuals. An AIDS Malignancy Consortium pilot study. J Acquir Immune Defic SynDr. 47: 56 – 61, 2007.
Goldstone SE et al. Infrared coagulator: a useful tool for treating anal squamous intraepithelial lesions. Dis Colon Rectum 48: 1042 – 1054, 2005.

Edit terakhir: 31 Januari 2008