Rokok, ganja dan alkohol dapat mengurangi tingkat beberapa jenis ARV

Rokok dan ganja dapat mengurangi tingkat atazanavir dalam tubuh, sementara rokok dan alkohol dapat mengurangi tingkat efavirenz pada orang yang memiliki jenis genetika tertentu. Hal itu berdasarkan dua poster yang dipresentasikan dalam Konferensi mengenai Antimicrobial Agents and Chemotherapy (ICAAC) ke-49 di San Francisco, AS.

Atazanavir

Peneliti AS mengamati hubungan antara apa yang disebut sebagai ‘kelainan terkait narkoba dan alkohol’ dan tingkat atazanavir, viral load HIV dan jumlah CD4.

Penelitian itu melibatkan 67 Odha di empat kota (Bronx; Rochester, NY; Cleveland; dan Miami) yang sudah memakai rejimen antiretroviral (ARV) yang mengandung atazanavir secara stabil selama lebih dari dua tahun. Sebagian besar (60%) adalah laki-laki, berusia rata-rata 46 tahun, 25% koinfeksi dengan hepatitis C dan rata-rata jumlah CD4-nya kurang lebih 450.

Kurang lebih separuh peserta dikelompokkan sebagai memiliki kelainan terkait penggunaan narkoba dan alkohol. Kurang lebih separuh peserta melaporkan merokok, seperempat lebih sedikit melaporkan minum alkohol, hampir 20% melaporkan menghisap ganja dan candu, dan 10% memakai heroin. (Bagian lain dari poster melaporkan tingkat penggunaan yang lebih tinggi, termasuk 91% merokok, 41% minum alkohol dan 38% memakai mariyuana.) Sejumlah yang cukup banyak – kurang lebih 40% – memakai beberapa jenis narkoba.

Peneliti menemukan bahwa tingkat cekung bawah atazanavir (tingkat terendah di antara dosis) lebih rendah secara bermakna pada Odha penghisap rokok atau ganja. Pada kenyataannya, separuh perokok dan lebih dari sepertiga penghisap ganja memiliki tingkat cekung bawah di bawah kisaran tingkat terapeutik yang efektif.

Perbedaan kepadatan cekung bawah atazanavir di antara pengguna narkoba dan alkohol dengan yang bukan pengguna, tidak bermakna secara statistik pada Odha pengguna heroin atau candu, dan tingkat yang kurang lebih sama pada peminum alkohol dan yang tidak minum alkohol.

Namun, terlepas dari perbedaan tingkat atazanavir yang diamati, peneliti mencatat tidak ada pengaruh langsung yang bermakna dari penggunaan narkoba dan alkohol terhadap viral load HIV dan jumlah CD4.

“Walaupun kelainan terkait penggunaan narkoba dan alkohol tidak memiliki dampak langsung secara bermakna terhadap hasil pengobatan, jumlah CD4 yang relatif rendah dan viral load yang tinggi di antara pasien penghisap rokok dan ganja memberi kesan bahwa interaksi obat-narkoba dapat menyokong perbedaan tanggapan pada di antara pasien pengguna ARV yang mengandung atazanavir,” peneliti menyimpulkan.

Peneliti berpendapat bahwa interaksi tersebut dapat terjadi karena narkoba dan alkohol mempercepat proses metabolisme atazanavir oleh enzim CYP3A di dalam hati.

Efavirenz

Dalam analisis ke dua, tim penelitian yang sama mengamati hubungan antara penggunaan narkoba dan alkohol dengan farmakokinetik efavirenz. Secara khusus, mereka ingin menentukan dampak jenis genetika tertentu (nucleotide polymorphism tunggal) pada gen yang memberi sinyal pada CYP2B6, enzim di dalam hati yang berperan dalam metabolisme efavirenz.

Penelitian itu melibatkan 37 Odha dalam kohort di empat kota yang memakai rejimen yang mengandung efavirenz, 17 di antaranya digolongkan sebagai memiliki kelainan terkait penggunaan narkoba dan alkohol. Berdasarkan genotipe CYP2B6, peserta digolongkan sebagai orang dengan metabolisme efavirenz sangat cepat (genotipe GG), sedang (genotipe GT), atau lamban (genotipe TT).

Peneliti mencatat kepadatan cekung bawah efavirenz yang lebih rendah secara bermakna di antara perokok tembakau dan peminum alkohol pada kelompok metabolisme cepat, juga dengan jumlah CD4 yang lebih rendah dan viral load yang lebih tinggi. Namun, ganja, candu dan heroin, tidak terkait secara bermakna dengan kepadatan efavirenz. Lebih lanjut, peneliti mengatakan bahwa penggunaan narkoba dan alkohol tidak berdampak langsung pada tanggapan ARV.

“Mekanisme yang mendasari pengamatan tersebut dapat termasuk farmakogenomik gabungan dan unsur perilaku”, peneliti berpendapat, menambahkan bahwa petugas klinis harus mempertimbangkan temuan farmakologi ketika akan memilih rejimen ARV untuk pasien dengan kelainan terkait penggunaan narkoba dan alkohol.

Keterbatasan penelitian adalah bahwa peneliti tidak mengamati tingkat kepatuhan, yang mungkin dapat terpengaruh oleh penggunaan narkoba. Mereka juga tidak melaporkan jumlah narkoba atau alkohol yang dipakai. Laporan yang pertama tidak membedakan antara penggunaan PI yang dikuatkan dan PI yang tidak dikuatkan oleh atazanavir, yang mungkin berdampak besar pada tingkat kepadatan obat. Laporan kedua tidak menyelidiki apakah kerusakan hati akibat minum alkohol secara berlebihan dapat berperan pada perubahan metabolisme obat.

Ringkasan: Tobacco, marijuana and alcohol may lower levels of some anti-HIV drugs

Sumber: Ma Q et al. Tobacco and marijuana uses significantly decrease atazanavir (ATV) trough concentrations in HIV-infected individuals . 49th Interscience Conference on Antimicrobial Agents and Chemotherapy, San Francisco, abstract H-231, 2009.
Ma Q et al. Effects of CYP2B6 single nucleotide polymorphisms (SNPs) and substance abuse on efavirenz (EFV) pharmacokinetics. 49th Interscience Conference on Antimicrobial Agents and Chemotherapy, San Francisco, abstract H-228, 2009.