Nama Spiritia

Baru saja tahu terinfeksi HIV? Klik di sini...

Versi telepon genggam

Penggunaan narkoba, obat impotensi dan infeksi HIV – apakah ada hubungan? Logo Acrobat Unduh versi PDF
Oleh: Sean R. Hosein, CATIE News Tgl. laporan: 15 Oktober 2009

Beberapa orang memakai narkoba untuk mabuk (high). Namun narkoba dapat melemahkan nalar, pemikiran kritis dan akal sehat seseorang. Sehubungan dengan hubungan seksual, penggunaan narkoba dapat mengarah pada kegiatan seks tanpa kondom dan penyebaran HIV serta infeksi menular seksual (IMS) lain.

Pada laki-laki, penggunaan zat tertentu termasuk alkohol, shabu, ekstasi dan ganja kadang dapat mempengaruhi kemampuan dan ketahanan ereksi. Akibatnya, beberapa laki-laki pengguna narkoba juga memakai obat oral untuk mengatasi impotensi [disfungsi ereksi (erectile dysfunction/ED)]. Beberapa contoh obat ED adalah sebagai berikut:

Para peneliti di Sydney, Australia, telah melakukan penelitian yang mengamati interaksi narkoba, obat impotensi, perilaku seksual dan penularan HIV. Penelitian tersebut mungkin membuka jalan untuk menemukan cara untuk membantu beberapa laki-laki gay menuju hidup yang lebih aman dan sehat.

Penelitian HIM

Peneliti Australia merekrut laki-laki yang aktif secara seksual untuk penelitian Health In Men (HIM). Pada saat mereka masuk dalam penelitian, semua peserta adalah HIV-negatif. Setiap enam bulan mereka diwawancarai secara luas tentang kegiatan seksual dan penggunaan narkoba. Peserta juga dites terhadap infeksi HIV setiap tahun.

Penelitian mulai merekrut peserta pada Juli 2001 dan terus merekrut hingga Juni 2004. Penelitian itu telah mengumpulkan data dari 1.427 laki-laki, yang dianalisis secara terus-menerus. Profil rata-rata laki-laki saat mereka masuk penelitian adalah sebagai berikut:

Hasil

Secara keseluruhan, 53 peserta menjadi HIV-positif selama masa penelitian. Rata-rata mereka berusia 37 tahun.

Para peneliti menemukan bahwa 621 laki-laki melaporkan melakukan hubungan seks dubur dengan dan tanpa kondom dengan pasangan tidak tetap dalam enam bulan terakhir. Lebih lagi, kurang lebih 50% dari 621 laki-laki itu mengungkapkan memakai narkoba. Dengan mempertimbangkan banyak faktor, para peneliti menemukan bahwa penggunaan obat DE oral berkaitan dengan menjadi HIV-positif.

Di antara peserta pengguna narkoba misalnya amil nitrat atau shabu, risiko terinfeksi HIV meningkat secara bermakna apabila mereka juga memakai obat ED. Temuan itu mungkin terjadi karena beberapa laki-laki gay dan biseksual memakai narkoba yang dikombinasikan dengan obat ED “agar mereka mampu melakukan kegiatan seksual saat pesta seks.”

Mengejar kesenangan

Tim peneliti berpendapat bahwa beberapa laki-laki gay – yang disebut “petualang seksual” – mengejar kenikmatan seksual sedemikian rupa dengan melibatkan diri dalam kegiatan berisiko tinggi misalnya penggunaan narkoba dan hubungan seksual tanpa kondom. Akibatnya, saat memakai narkoba dan pesta seks, mengarahkan mereka pada penggunaan obat ED.

Peneliti lain menemukan bahwa penggunaan shabu dan obat ED telah menyebabkan sesi “seks maraton” di antara beberapa orang. Hubungan seks yang berkepanjangan dapat merobek kondom dan dapat menyebabkan kerusakan jaringan pada penis atau bagian dalam dubur, meningkatkan risiko tertular atau menularkan HIV. Dengan demikian, mungkin beberapa peserta penelitian di Australia yang memakai narkoba dan obat ED mampu bertahan lebih lama dari biasanya saat melakukan seks tanpa kondom dengan beberapa pasangan secara tidak direncanakan, sehingga mereka lebih berisiko tertular HIV.

Situasi mungkin penting

Tim peneliti Australia berpendapat bahwa situasi saat penggunaan narkoba adalah penting untuk memahami risiko HIV. Mereka menambahkan bahwa sekadar menyatakan narkoba merusak nalar, itu hanya sebagian alasan yang dapat menjelaskan dampak narkoba terhadap penularan HIV. Para peneliti menyatakan bahwa kasus penggunaan narkoba dan perilaku berisiko berkaitan secara rumit. Sebagai contoh, peneliti Australia dan peneliti lain telah menemukan bahwa laki-laki pengguna narkoba dapat melakukannya agar mereka memiliki ikatan secara “sosial dan seksual” dengan laki-laki lain. Dengan memakai narkoba dan obat ED, mereka juga berusaha untuk meningkatkan kemampuan dan mencapai kenikmatan seksual dengan berpartisipasi dalam “subbudaya petualangan seksual gay.”

Masa depan

Khawatir dengan penggunaan narkoba dan obat ED pada beberapa laki-laki gay dan biseksual, tim Australia mengangkat beberapa pertanyaan yang memerlukan penelitian lebih lanjut, termasuk yang berikut ini:

Meneliti pertanyaan tersebut mungkin dapat menjelaskan perilaku beberapa laki-laki gay dan biseksual. Pemahaman ini dapat menyediakan cara untuk membantu mereka mengurangi penularan HIV dan mengarah pada hidup yang lebih sehat.

Ringkasan: Substance use, penis medicines and HIV infection – is there a link?

Sumber: Prestage G, Jin F, Kippax S, et al. Use of illicit drugs and erectile dysfunction medications and subsequent HIV infection among gay men in Sydney, Australia. Journal of Sexual Medicine. 2009 Aug;6(8):2311-20.

Edit terakhir: 12 November 2009