Nama Spiritia

Baru saja tahu terinfeksi HIV? Klik di sini...

Versi telepon genggam

Teknik terapi gen memperlambat pengembangan penyakit otak Logo Acrobat Unduh versi PDF
Oleh: ScienceDaily Tgl. laporan: 5 November 2009

Sebuah strategi yang menggabungkan terapi gen dengan terapi sel batang darah mungkin dapat menjadi cara yang bermanfaat untuk mengobati penyakit otak yang mematikan.

Hal itu berdasarkan temuan peneliti Prancis.

Temuan tersebut diterbitkan dalam jurnal Science edisi 6 November 2009, yang diterbitkan oleh AAAS, lembaga ilmiah nirlaba.

Dalam sebuah penelitian percobaan terhadap dua pasien yang dipantau selama dua tahun, tim peneliti internasional memperlambat permulaan penyakit otak yang mematikan yang terkait dengan X adrenoleukodystrophy (ALD) dengan memakai vektor lentiviral untuk memasukkan gen terapeutik ke dalam sel darah pasien. Walaupun dibutuhkan penelitian dengan kohort pasien yang lebih besar, hasil tersebut memberi kesan bahwa terapi gen dengan vektor lentiviral, yang diambil dari jenis HIV yang dimatikan, mungkin dapat dijadikan alat pengobatan penyakit manusia secara lebih luas.

“Ini adalah pertama kalinya kami berhasil memakai vektor lentivirus yang berasal dari HIV untuk terapi gen pada manusia, dan juga pertama kalinya penyakit otak berat berhasil diobati dengan terapi gen. kami telah menunjukkan bahwa vektor lentivirus yang berasal dari HIV bekerja sesuai harapan selama bertahun-tahun,” kata rekan penulis Patrick Aubourg, dosen pediatrik di Universitas Paris-Descartes dan ketua bidang penelitian di Inserm-University Paris Descartes.

Sebagaimana ditampilkan dalam film layar lebar “Lorenzo’s Oil,” ALD adalah penyakit keturunan yang berat yang disebabkan oleh kekurangan protein ALD yang akibat penurunan asam lemak. Penderita ALD kehilangan myelin sheath, lapisan pelindung yang membungkus serat saraf di otak. Tanpa myelin, saraf kehilangan fungsinya, mengakibatkan pasien menjadi cacat fisik dan mental. ALD terkait X, bentuk penyakit yang paling umum, mempengaruhi anak laki-laki sejak usia 6-8 tahun dan kematian biasanya muncul sebelum pasien mencapai usia remaja.

Pencangkokan sumsum tulang biasanya memperlambat pengembangan penyakit karena sumsum tulang dari pendonor termasuk sel yang berkembang ke dalam sel pembuat myelin. Namun, menemukan pendonor sumsum yang cocok adalah proses yang sulit dan panjang, dan prosedur pencangkokan sangat berisiko.

Memperbaiki sel batang darah secara genetika pada sumsum tulang pasien mungkin terbukti sebagai pilihan pendekatan yang berharga apabila tidak ada pendonor sumsum yang cocok.

Pada sebagian besar penelitian terapi gen, gen yang aktif dimasukkan ke dalam genome untuk menggantikan gen yang tidak berfungsi, gen penyebab penyakit. Molekul pengantar yang disebut vektor dipakai untuk mengantar gen terapeutik ke dalam sel pasien. Biasanya, vektor adalah tulang punggung virus yang sudah diubah secara genetika untuk membawa DNA manusia yang normal. Para ilmuwan baru-baru ini telah beralih ke vektor yang diperoleh dari gen lentivirus genus retrovirus, yang termasuk HIV. Vektor lentivirus adalah jenis retrovirus yang dapat menginfeksi sel yang membelah dan tidak membelah, dan dianggap menyediakan keberadaan gen dalam jangka panjang dan secara stabil, tidak seperti retrovirus lain.

“Vektor lentivirus yang berasal dari HIV memungkinkan munculnya gen terapeutik yang diperlukan untuk hidup, karena gen terapeutik dimasukkan ke dalam kromosom – genome. Oleh karena itu, sel yang berasal dari sel yang semula diperbaiki, khususnya sel batang, akan terus menjadi gen terapeutik selama-lamanya,” kata Aubourg.

Dalam penelitian, sel batang darah dikeluarkan dari pasien dan diperbaiki secara genetik di laboratorium, dengan memakai vektor lentivirus untuk memasukkan tiruan gen ALD yang bekerja ke dalam sel. Sel yang diubah kemudian dikembalikan ke pasien setelah pengobatan sel yang memusnahkan sumsum tulang mereka. Dua tahun kemudian, protein ALD yang sehat tetap terdeteksi pada kedua sel darah pasien. Yang sangat memberi harapan, kedua pasien menunjukkan perbaikan neurologi dan penundaan pengembangan penyakit dibandingkan dengan yang tampak pada pencangkokan sumsum tulang.

Protein ALD yang sehat ditemukan pada kurang lebih 15% sel darah, namun mengejutkan bahwa jumlah yang sedikit itu cukup untuk melambatkan pengembangan penyakit otak pada pasien ALD. “Persentase perbaikan ini tidak akan cukup untuk seluruh penyakit,” Aubourg mengingatkan. “Ada banyak pekerjaan yang harus dilakukan agar terapi gen vektor lebih manjur, kurang rumit, dan lebih murah. Ini hanya permulaan,” katanya.

Terapi gen bukan tanpa risiko berat. Serupa dengan vektor retrovirus lain, vektor lentivirus HIV dikaitkan dengan memasukkan gen terapeutik ke dalam kromosom sel pasien. Dal dalam kasus terburuk, tindakan itu dapat mengganggu biologi sel dan pasien dapat berakhir dengan leukemia; hasil tersebut sudah terjadi pada uji coba terapi gen yang terdahulu. “Vektor lentivirus HIV umumnya memiliki risiko yang sama, walaupun rancangan vektor membuat pasien kurang rentan terhadap efek samping,” kata Aubourg.

Ringkasan: Gene Therapy Technique Slows Brain Disease ALD Featured In Movie ‘Lorenzo’s Oil’

Sumber: Hematopoietic Stem Cell Gene Therapy with a Lentiviral Vector in X-linked Adrenoleukodystrophy. Science, Nov. 6, 2009

Edit terakhir: 3 Desember 2009