Interaksi antar obat adalah umum terjadi namun sering tidak disadari oleh dokter

Tidak hanya interaksi antar obat adalah umum di antara orang dengan HIV yang menggunakan terapi antiretroviral (ART) namun interaksi ini sering diabaikan oleh penyedia layanan kesehatan. Temuan penting ini dilaporkan oleh para peneliti dari Liverpool dalam Clinical Infectious Diseases edisi 15 Mei 2010.

“Interaksi antar obat yang tidak dikenali adalah salah satu alasan paling umum untuk kesalahan pengobatan dengan ART diantara terapi yang paling berisiko,” tulis John Evans-Jones dari Royal Liverpool dan Broadgreen University Hospitals NHS Trust dan rekan. Kegagalan untuk mengenali interaksi ini, dapat menyebabkan konsentrasi obat dalam darah menurun di bawah tingkat yang diperlukan bagi terapi untuk tetap aktif atau menyebabkan konsentrasi obat dalam darah meningkat sehingga risiko efek samping serius adalah lebih tinggi.

Walaupun penelitian sebelumnya menyarankan bahwa risiko interaksi antar obat yang signifikan adalah umum, tidak ada studi yang telah menilai sejauh mana interaksi ini dikenali dan dikelola oleh penyedia layanan kesehatan.

Kelompok Evans-Jones menanyakan dokter yang merawat pasien dengan HIV di Royal Liverpool University Hospital untuk melengkapi kuesioner terstruktur. Untuk setiap pasien – total 159 pasien yang disertakan dalam studi – penyedia layanan kesehatan diminta untuk mencatat semua resep dan obat umum yang digunakan oleh pasien. Selain itu penggunaan narkoba juga dicatat. Dari sana, para dokter diminta untuk mengidentifikasi interaksi antar obat yang signifikan dalam daftar obat yang digunakan oleh setiap pasien dan mencatat perubahan dosis untuk mengompensasi interaksi.

Sebanyak 86 interaksi antar obat yang signifikan didokumentasikan, terjadi pada 43 (27%) dari pasien yang terdaftar. Tidak mengherankan, pasien yang menggunakan protease inhibitor – jenis ARV yang diketahui memiliki banyak interaksi antar obat – menghadapi risiko terbesar dari interaksi antar obat yang signifikan.

Obat yang paling sering terlibat dalam interaksi antar obat termasuk ARV, antidepresan, antibiotik, statin (untuk manajemen kolesterol) dan narkoba.

Hanya 31 (36%) dari 86 interaksi antar obat yang signifikan tersebut secara benar diidentifikasi oleh dokter. Ada berbagai interaksi antar obat yang signifikan diamati, termasuk interaksi antara ARV dan dengan kelas lainnya obat, terutama antidepresan, antibiotik, penurun kolesterol statin, dan narkoba.

“Pengenalan interaksi antar obat yang rendah dari pada dokter tidak terbatas pada pengobatan HIV namun juga terlihat dalam obat lain yang umum diresepkan,” Evans-Jones dan rekan mencatat. “Namun demikian, konsekuensi dari kegagalan untuk mengenali atau mengelola interaksi antar obat HIV mungkin masih dapat dipertimbangkan karena lebih dari seperempat interaksi antar obat yang signifikan dalam studi kami memiliki potensi untuk menurunkan konsentrasi ART. Lebih jauh lagi, pasien dengan interaksi antar obat yang signifikan dapat menunjukkan gejala penyakit atau kelainan laboratorium yang tidak bisa dijelaskan.”

Untuk lebih baik mengelola interaksi antar obat yang signifikan – para peneliti menganggap “untuk sebagian besar tidak dapat dihindari” – Evans-Jones dan rekan berpendapat bahwa rekaman pengobatan yang lebih baik sangat penting. “Sistem komputerisasi dapat mendukung resep elektronik; namun, peninjauan sistematis dari sistem menunjukkan 55-91,2% dari tanda interaksi antar obat diabaikan oleh para dokter, mungkin karena ‘kelelahan kewaspadaan’. Sampai sistem seperti ini dapat dibuat lebih bermanfaat, kami menyarankan agar dokter lebih waspada terhadap risiko interaksi antar obat yang signifikan dengan menggunakan sumber daya informasi yang tersedia, dan bahwa departemen farmasi dapat memberikan bantuan dalam identifikasi interaksi antar obat yang signifikan dan secara rutin melakukan audit dari resep.”

Artikel asli: Drug Interactions Common, Frequently Unrecognized by Docs