Nama Spiritia

Baru saja tahu terinfeksi HIV? Klik di sini...

Versi telepon genggam

Studi menyarankan tes genetik bisa memprediksi efek samping obat HIV Logo Acrobat Unduh versi PDF
Oleh: poz.com Tgl. laporan: 3 Januari 2011

Sebuah studi baru yang diterbitkan dalam edisi 15 Januari 2010 Journal of Infectious Diseases menyarankan pengujian genetik yang dapat membantu memprediksi apakah seseorang akan memiliki efek samping dari beberapa obat HIV. Hal ini dapat memungkinkan orang untuk menghindari obat atau setidaknya menggunakan mereka dengan kewaspadaan yang lebih besar.

Studi sebelumnya telah menemukan bahwa efek samping dapat menyebabkan seseorang mengalihkan pengobatan atau menghentikan pengobatan sampai dengan 45% pada orang yang menggunakan terapi HIV untuk pertama kalinya. Namun, sejauh ini, para peneliti menemukan hanya satu bentuk dari gen (alel) bertanggung jawab untuk efek samping. Alel HLA-B5701, menyebabkan seseorang memiliki reaksi hipersensitif terhadap abacavir.

Alel lain telah dikaitkan dengan perubahan tingkat obat dalam darah atau peningkatan risiko efek samping untuk obat HIV lain, namun dampak dari alel ini tidak dapat diprediksi seperti alel HLA-B5701.

Untuk menentukan apakah alel lain mungkin memprediksi tolerabilitas yang rendah untuk obat selain abacavir, Rubin Lubomirov, MD, PhD, dari University of Lausanne di Swiss dan rekan menganalisis data dari 577 orang yang terdaftar dalam penelitian Swiss HIV Cohort. Semua peserta menggunakan ARV untuk pertama kalinya.

Obat-obatan khusus yang mereka diteliti adalah abacavir, tenofovir, efavirenz, Kaletra dan atazanavir yang dikuatkan dengan ritonavir.

Berdasarkan data yang menghubungkan alel kepada efek samping atau perubahan tingkat obat dalam darah pada studi sebelumnya, Lubomirov dan rekannya menguji sampel darah yang dikumpulkan terhadap 23 alel dalam 15 gen.

Satu-satunya pengalihan genetik yang tidak disertakan adalah alel HLA-B5701, karena semua orang yang menggunakan abacavir sudah diuji untuk alel dan hanya mereka yang tidak diizinkan untuk menggunakan abacavir. Dengan beberapa obat, para peneliti mengamati apakah alel tunggal mempengaruhi tolerabilitas obat, dan dengan obat lain, tim Lubomirov melihat pada efek gabungan dari beberapa alel.

Tim ini tidak secara langsung menilai pengaruh alel tertentu pada efek samping tertentu. Mereka hanya terfokus pada apakah alel memprediksi penyesuaian dosis atau penghentian pengobatan (meskipun alasan yang paling umum untuk beralih pengobatan dalam penelitian ini adalah efek samping).

Tim menemukan bahwa keberadaan alel spesifik obat sangat prediktif sebuah peralihan dari efavirenz atau atazanavir, tapi tidak untuk obat lain.

Tim Lubomirov menemukan bahwa 71% orang dengan alel pada gen CYP2B6 dikombinasikan dengan alel sekunder untuk gen lain harus mengalihkan efavirenz atau mengubah dosis obat dibandingkan dengan hanya 28% dari mereka yang tidak memiliki alel. Risiko ini lebih tinggi pada perempuan.

Demikian juga, Lubomirov dan rekannya menemukan bahwa 62% orang dengan substitusi ganda pada gen UGT1A1 harus mengubah atau menghentikan atazanavir, dibandingkan dengan 24% dengan substitusi tunggal dan hanya 15% tanpa substitusi.

“Studi ini menunjukkan bahwa penilaian terhadap penanda genetik dapat memperbaiki pemberian resep atazanavir dan efavirenz,” penulis menyatakan. Mereka menyimpulkan bahwa “percobaan klinis prospektif idealnya harus merumuskan analisis dan memberikan dasar untuk mengukur efektivitas biaya dari pendekatan ini.”

Artikel asli: Study Suggests Genetic Tests Could Predict HIV Drug Side Effects

Edit terakhir: 26 Januari 2011