Obat anti epilepsi lama terkait dengan kegagalan pengobatan HIV

Terdapat interaksi antara beberapa obat anti epilepsi lama dengan obat antiretroviral sehingga obat-obatan ini tidak bisa digunakan secara bersamaan. Hal ini sesuai dengan studi AS yang diterbitkan di jurnal AIDS Research and Therapy.

Kedua jenis terapi dimetabolisme oleh tubuh dengan memakai jalur P450 di hati, mengurangi tingkat obat anti-HIV dan mengarah ke kontrol virus yang kurang optimal.

Meskipun risiko teoritis dari interaksi obat ini diketahui dari penelitian farmakokinetik pada sukarelawan sehat, penelitian ini memberikan bukti klinis kuat bahwa obat anti-epilepsi yang lebih lama tidak boleh digunakan pada pasien yang menggunakan ART.

Sebagian besar obat anti-epilepsi yang digunakan dalam rangkaian terbatas sumber daya menggunakan jalur P450, dan para peneliti percaya bahwa konsekuensi dari interaksi dengan terapi HIV “mungkin substansial.”

Orang HIV-positif menggunakan obat anti-epilepsi secara luas. Selain untuk mengendalikan kejang, mereka juga merupakan terapi untuk neuropati, depresi dan untuk gangguan bipolar.

Banyak obat anti-epilepsi generasi pertama seperti phenytoin, carbamazepine dan phenobarbital dimetabolisme oleh enzim P450. Jalur yang sama juga digunakan oleh obat antiretroviral dalam kelas PI dan non-nucleoside reverse transcriptase inhibitor (NNRTI) serta CCR5 inhibitor maraviroc.

Karena obat ini dimetabolisme dengan cara yang sama, ada interaksi yang dapat terjadi. Hal ini dapat menyebabkan pengurangan tingkat darah dari obat antiretroviral sehingga mengurangi kontrol yang memadai dari HIV.

Oleh karena itu para peneliti membandingkan hasil virologi secara retrospektif pada pasien yang menggunakan terapi antiretroviral dengan obat anti epilepsi yang merangsang P450 dengan dua populasi kontrol.

Kelompok yang pertama terdiri dari pasien yang menggunakan pengobatan HIV dan anti epilepsi yang tidak menggunakan jalur P450; kelompok kedua terdiri dari pasien yang menggunakan hanya terapi HIV.

Kegagalan virologi didefinisikan sebagai kurangnya penekanan virus hingga di bawah 400 pada enam bulan setelah memulai terapi, atau peningkatan viral load berkelanjutan sampai di atas 400 setelah periode viral load yang tidak terdeteksi.

Sebanyak 19 pasien diobati dengan terapi HIV bersamaan dan obat anti epilepsi yang menggunakan jalur P450.

Pasien-pasien ini secara bermakna lebih mungkin dibandingkan 85 orang yang menggunakan obat anti epilepsi yang tidak menggunakan jalur ini untuk mengalami kegagalan virologi (63% vs 27%, p = 0,009).

Setelah terapi selama enam bulan dan 12 bulan, pasien yang menggunakan obat anti epilepsi yang lama kurang mungkin untuk memiliki viral load yang tidak terdeteksi dibandingkan dengan pasien yang menggunakan terapi epilepsi non P450 (33% vs 71%, p = 0,016; 36 % vs 75%, p = 0,018).

Risiko kegagalan terapi meningkat empat kali lipat pada pasien yang menggunakan obat anti epilepsi P450 dibandingkan dengan pasien yang menggunakan obat epilepsi yang tidak menggunakan jalur ini (OR = 4,19; 95% CI, 1,54-11,44, p = 0,005).

Tingkat kegagalan virologi juga lebih tinggi di antara pasien yang memakai terapi epilepsi yang lebih tua bila dibandingkan dengan orang-orang yang tidak menerima obat anti epilepsi (63% vs 43%). Perbedaan hasil antara kedua kelompok adalah signifikan ketika para peneliti mempertimbangkan viral load awal (p = 0,046).

“Studi ini adalah yang pertama yang menunjukkan hasil klinis yang bermakna pada peserta yang menerima pengobatan yang tumpang tindih dengan obat anti epilepsi yang menggunakan P450 dan ART,” komentar para peneliti.

Mereka menekankan, “dampaknya begitu kuat, sehingga kita mampu menunjukkan ini meskipun hanya sejumlah kecil pasien yang menggunakan obat anti epilepsi yang menggunakan jalur P450.

Para peneliti merekomendasikan bahwa sedapat mungkin, pasien dengan HIV harus menerima obat anti epilepsi yang tidak menggunakan jalur P450.

Namun, di banyak rangkaian terbatas sumber daya, obat epilepsi yang tersedia adalah obat yang lama dan memiliki risiko interaksi.

Dalam keadaan ini para peneliti merekomendasikan pemantauan klinis yang lebih dekat, dan jika memungkinkan menggunakan terapi HIV yang tidak melibatkan risiko interaksi.

Mereka mencatat bahwa satu pilihan ARV adalah raltegravir. Tapi mereka mengakui harganya yang mahal sehingga mungkin tidak tersedia di negara miskin. Kemungkinan lain yang ditawarkan oleh pada peneliti adalah terapi tiga NRTI, namun hasil virologi yang rendah terkait dengan rejimen tersebut juga dicatat.

Ringkasan: Older anti-epileptic drugs associated with failure of HIV treatment

Sumber: Okulicz JF et al. Virologic outcomes of HAART with concurrent use of cytochrome P450-inducing antiepileptics: a retrospective case control study. AIDS Research and Therapy, 8: 18, 2011.