Pedoman diterbitkan mengenai pengelolaan interaksi antara obat anti epilepsi dan anti HIV

Penyesuaian dosis dibutuhkan ketika obat antiretroviral dan anti epilepsi tertentu digunakan bersamaan, menurut pedoman yang diterbitkan di Neurology.

Pedoman ini dikembangkan oleh tim peneliti yang meninjau semua studi yang diterbitkan yang melaporkan interaksi antara terapi anti HIV dan anti epilepsi. Sejumlah interaksi potensial yang membutuhkan penyesuaian dosis dari obat antiretroviral atau anti epilepsi diidentifikasi. Mereka juga menemukan bahwa lebih dari 50% pasien dengan HIV secara potensial membutuhkan obat anti epilepsi untuk mengendalikan kejang, kondisi psikiatri atau neuropati perifer.

Pemimpin peneliti Dr. Gretchen Birbeck menjelaskan pentingnya pedoman: “Memberikan pedoman yang akan membantu dokter memilih terapi yang tepat untuk pasien dengan epilepsi dan HIV pada akhirnya akan meningkatkan hasil pasien dan mungkin mengurangi ancaman kesehatan masyarakat yang resistan terhadap obat HIV.”

Pemimpin penelitian Dr. Gretchen Birbeck menjelaskan pentingnya pedoman: “Memberikan pedoman yang akan membantu dokter memilih terapi yang tepat untuk pasien dengan epilepsi dan HIV pada akhirnya akan meningkatkan hasil kesehatan pasien dan mungkin mengurangi ancaman kesehatan masyarakat yang resistan terhadap obat HIV.”

Peneliti dari American Academy of Neurology and the International League Against Epilepsy mengembangkan pedoman karena kurangnya kejelasan tentang penggunaan dua jenis terapi oleh pasien dengan HIV. Pembentukan pedoman ini terutama penting karena obat epilepsi lama yang memiliki risiko yang tinggi untuk berinteraksi dengan obat protease inhibitor dan NNRTI digunakan secara luas di negara miskin. Obat yang lebih tua ini digunakan secara luas di negara berpenghasilan rendah dan menengah dimana pilihan terapi antiretroviral sering terbatas.

Obat anti epilepsi tidak hanya mencegah kejang tetapi juga digunakan untuk mengobati kondisi neuropati dan kejiwaan seperti gangguan suasana hati bipolar. Namun, potensi jumlah pasien HIV-positif yang memakai obat anti epilepsi saat ini tidak diketahui.

Oleh karena itu para panel peneliti melakukan tinjauan literatur untuk mengidentifikasi semua studi yang mengeksplorasi potensi interaksi antara terapi untuk HIV dan epilepsi.

Sebanyak 42 studi memenuhi kriteria inklusi. Mereka menunjukkan bahwa mayoritas pasien HIV-positif berpotensi memerlukan pengobatan dengan obat anti epilepsi. Proporsi pasien yang mengembangkan kejang adalah rendah, antara 3% dan 6%. Namun, sampai 53% pasien mengembangkan gejala neuropati sebelum memulai terapi HIV, dan sebanyak 55% dari pasien yang tersisa mengalami neuropati perifer setelah mereka memulai terapi antiretroviral.

Beberapa interaksi penting diidentifikasi. Namun, studi yang meneliti ini sering hanya kecil dan termasuk HIV-negatif.

Sebagai contoh, sebuah penelitian yang melibatkan dua belas relawan HIV-negatif menunjukkan bahwa fenitoin mengurangi konsentrasi lopinavir/ritonavir sebesar sepertiga.

Sebuah interaksi antara karbamazepin dan efavirenz (Sustiva, juga dalam pil kombinasi Atripla) juga diidentifikasi, dengan kadar antiretroviral menurun sebesar 36%.

Sebaliknya, konsentrasi dari beberapa ARV meningkat oleh anti epilepsi. Sebagai contoh, asam valproik dikaitkan dengan peningkatan yang signifikan (p <0,05) untuk daerah di bawah kurva dari AZT.

ARV juga mempengaruhi tingkat obat anti epilepsi. Atazanavir yang dikuatkan oleh ritonavir mengurangi konsentrasi lamotrigin sebesar sepertiga dan masa paro obat sebesar 27%, Selain itu, lopinavir/ritonavir menurunkan tingkat fenitoin sebesar 31%.

Para penulis mengidentifikasi hanya satu studi yang memeriksa konsekuensi klinis dari interaksi antara obat ARV dan anti epilepsi. Ini menunjukkan bahwa pasien yang memakai kedua jenis terapi secara bermakna lebih mungkin untuk mengalami kegagalan virologi dibandingkan pasien yang hanya memakai terapi HIV (p = 0,009). Serangkaian studi kasus juga menunjukkan konsentrasi obat anti-epilepsi berubah setelah terapi dengan obat antiretroviral dimulai.

Para peneliti membuat sejumlah rekomendasi tentang penyesuaian dosis:

Dosis lopinavir/ritonavir mungkin perlu ditingkatkan sebesar 50% ketika digunakan dengan fenitoin untuk mempertahankan tingkat darah dari protease inhibitor tersebut.

Dosis AZT mungkin perlu dikurangi jika digunakan dengan asam valproik.

Individu memakai atazanavir/ritonavir mungkin perlu untuk meningkatkan dosis lamotrigin sebesar 50% untuk menjaga konsentrasi obat ini dalam darah.

Mereka juga mengingatkan: “Pasien juga harus diberi konseling bahwa apakah penyesuaian dosis dibutuhkan ketika obat anti HIV dan anti epilepsi dikombinasikan, pasien dapat dipantau melalui penilaian farmakokinetik untuk memastikan kemanjuran antiretroviral.”

Ringkasan: Guidelines published on management of interactions between anti-epileptic and anti-HIV drugs

Sumber: Birbeck G et al. Evidence-based guideline: antiepileptic drug selection for people with HIV/AIDS. Neurology, online edition. DOI: 10.1212/WNL.0bo13e31823efcf8, 2012.