Nama Spiritia

Baru saja tahu terinfeksi HIV? Klik di sini...

Versi telepon genggam

Vitamin D meningkatkan kesehatan tulang pada orang muda dengan HIV yang menggunakan tenofovir Logo Acrobat Unduh versi PDF
Oleh: NIH Tgl. laporan: 17 Januari 2012

Menggunakan suplemen vitamin D dapat mencegah perubahan hormon yang terkait dengan keropos tulang pada orang dewasa muda yang rejimen antiretroviral termasuk tenofovir, menurut pengumuman baru dari Institut Kesehatan Nasional (NIH).

Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa orang dengan HIV berada pada risiko yang lebih besar untuk kehilangan kepadatan tulang termasuk osteopenia dan osteoporosis. Masih belum jelas apakah hal ini disebabkan oleh HIV itu sendiri, terapi antiretroviral, atau beberapa kombinasi dari faktor; namun, beberapa studi telah menemukan hubungannya dengan tenofovir.

Di bawah ini adalah kutipan yang diedit dari siaran pers yang menggambarkan penelitian terbaru dan temuannya.

Vitamin D meningkatkan kesehatan tulang di antara mereka yang menggunakan terapi anti-HIV

Studi NIH menunjukkan manfaat untuk orang muda yang menggunakan pengobatan tenofovir jangka panjang.

Vitamin D dapat membantu mencegah perubahan hormon yang dapat menyebabkan keropos tulang di antara mereka yang diobati dengan obat tenofovir, menurut hasil dari jaringan studi Institut Kesehatan Nasional (NIH) pada orang remaja dengan HIV.

Tenofovir banyak digunakan untuk mengobati infeksi HIV. Namun, obat ini menyebabkan gejala yang mirip dengan kekurangan vitamin D, menyebabkan tulang mengalami kehilangan kalsium dan kehilangan kepadatan tulang. Studi menemukan bahwa vitamin D bulanan dosis tinggi dapat mengurangi tingkat hormon dalam darah yang menstimulasi pelepasan kalsium dari tulang.

“Yang kami temukan adalah vitamin D dapat digunakan untuk melawan salah satu efek utama dari menggunakan tenofovir untuk mengobati HIV,” Rohan Zahra, MD dari Pediatric, Adolescent and Maternal AIDS Branch of the Eunice Kennedy Shriver National Institute of Child Health and Human Development (NICHD) mengatakan. “Orang yang berada pada usia remaja dan 20-an mungkin menggunakan pengobatan untuk HIV selama beberapa dekade, jadi menemukan cara yang aman dan tidak mahal untuk melindungi kesehatan tulang jangka panjang mereka akan menjadi kemajuan yang besar.”

Penemuan ini dipublikasikan dalam jurnal Clinical Infectious Diseases.

Vitamin D membantu tubuh menyerap kalsium untuk membentuk tulang. Ketika tubuh mengalami kekurangan vitamin D, tingkat hormon yang disebut hormon paratiroid meningkat. Peningkatan ini memicu aktivitas yang mengambil kalsium dari tulang. Sebagai hasilnya, tulang menjadi lebih rapuh dan mudah patah. Hormon paratiroid juga cenderung untuk meningkat pada orang yang menggunakan tenofovir, baik pada mereka yang memiliki vitamin D yang cukup maupun tidak.

Karena tingkat hormon paratiroid meningkat pada orang yang menggunakan tenofovir dengan cara yang sama pada orang dengan kekurangan vitamin D, para peneliti berteori bahwa vitamin D dapat melawan dampak yang merusak tulang dari tenofovir.

Penelitian dilakukan oleh peneliti utama Peter L. Havens, MD, dari Medical College of Wisconsin dan Rumah Sakit Anak Wisconsin, Milwaukee, Dr. Hazra; Kathleen Mulligan, PhD, dari University of California di San Francisco, dan peneliti lain berafiliasi dari Adolescent Medicine Trials Network for HIV/AIDS Interventions (ATN) dan International Maternal–Pediatric–Adolescent AIDS Clinical Trials (IMPAACT).

Selain dana dari NICHD, pendanaan juga diberikan oleh e National Center for Research Resources, National Institute on Drug Abuse, dan National Institute of Mental Health.

Sekitar 200 orang yang berusia 18 sampai 25 tahun yang menggunakan terapi antiretroviral mengambil bagian dalam studi. Peserta studi termasuk orang dewasa muda yang menggunakan tenofovir dan mereka yang menerima bentuk lain dan pengobatan anti HIV. Setiap bulan, remaja dan orang dewasa muda dalam studi ini menggunakan 50,000 dosis unit vitamin D atau plasebo.

Pada akhir tiga bulan, tingkat hormon paratiroid menurun sekitar 14% pada peserta yang menggunakan tenofovir dan vitamin D namun tetap tidak berubah pada peserta yang menggunakan terapi anti HIV apa pun. Namun, orang muda yang menggunakan tenofovir memiliki tingkat hormon paratiroid yang sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang menggunakan obat anti HIV lainnya. Para peneliti tidak tahu apakah pengobatan yang lebih lama dengan vitamin D dapat mengurangi tingkat hormon paratiroid lebih lanjut.

Rekomendasi dosis harian dari vitamin D adalah 600 unit. Para penulis mencatat bahwa mereka mengamati tidak ada efek samping dari penggunaan vitamin D selama studi tiga bulan.

Para peneliti membuat rencana untuk masa tindak lanjut studi untuk menguji keamanan jangka panjang dari vitamin D dalam kelompok yang serupa dari orang muda dengan HIV yang menggunakan rejimen terapi antiretroviral yang mengandung tenofovir dan untuk menentukan apakah perubahan dalam hormon paratiroid menghasilkan peningkatan pada kepadatan tulang.

Ringkasan: Vitamin D May Improve Bone Health in Young HIV+ People Taking Tenofovir

Sumber: National Institutes of Health. Vitamin D May Improve Bone Health in Those Taking Anti-HIV Drug. NIH News. January 10, 2012.

Edit terakhir: 10 Februari 2012