Ritonavir penyebab interaksi antara telaprevir dan atazanavir yang dikuatkan dengan ritonavir

Menurut penelitian Spanyol yang diterbitkan dalam jurnal Clinical Infectious Diseases, ritonavir adalah penyebab interaksi yang merugikan dari penggunaan secara bersamaan dari telaprevir dan atazanavir yang dikuatkan dengan ritonavir.

Penelitian ini melibatkan 14 orang dengan koinfeksi HIV dan virus hepatitis C (HCV) yang memakai terapi HCV telaprevir dan kombinasi pengobatan HIV termasuk atazanavir yang dikuatkan dengan ritonavir. Konsentrasi telaprevir dan atazanavir dalam darah dipantau ketika pasien memakai penguat ritonavir dan sekali lagi setelah obat tidak lagi digunakan. Peningkatan yang bermakna dari tingkat telaprevir dan atazanavir diamati setelah penghentian ritonavir.

Telaprevir dan boceprevir adalah protease inhibitor HCV. Pengobatan standar bagi orang-orang dengan infeksi HCV genotipe-1sekarang termasuk pengobatan dengan salah satu dari obat-obatan ini dalam kombinasi dengan interferon pegilasi dan ribavirin.

Telaprevir dimetabolisme melalui hati menggunakan jalur P450/CYP3A4. Protease inhibitor dimetabolisme dengan cara yang sama, berarti ada interaksi antar obat yang potensial antara telaprevir dan golongan ARV ini. Memang, penurunan yang signifikan dalam telaprevir dan darunavir yang dikuatkan dengan ritonavir dan fosamprenavir telah diamati ketika obat ini digunakan secara bersama.

Saat ini satu-satunya protease inhibitor HIV yang direkomendasikan untuk digunakan bersama dengan telaprevir adalah atazanavir yang dikuatkan dengan ritonavir.

Atazanavir hanya merupakan penghambat yang lemah dari CYP3A. Hal ini menyebabkan peneliti untuk berhipotesis bahwa ritonavir adalah kekuatan pendorong utama di balik interaksi antara telaprevir dan atazanavir yang dikuatkan dengan ritonavir. Mereka merancang sebuah penelitian label terbuka untuk melihat apakah hal ini memang terjadi.

Populasi penelitian mereka terdiri dari 14 orang dengan koinfeksi HIV dan HCV yang menggunakan pengobatan HCV bersamaan dengan terapi HIV yang termasuk telaprevir (1125mg dua kali sehari) dan atazanavir yang dikuatkan dengan ritonavir (100/300mg dua kali sehari).

Pertama-tama para peneliti pertama memantau kadar plasma telaprevir dan atazanavir ketika peserta dalam penelitian ini menggunakan ritonavir sebagai penguat atazanavir.

Para pasien kemudian menghentikan terapi ritonavir, beralih ke atazanavir yang tidak dikuatkan dengan dosis 200mg dua kali sehari. Pemantauan farmakokinetik kemudian diulang.

Penghentian ritonavir memiliki dampak yang nyata pada konsentrasi plasma dari telaprevir dan atazanavir.

Area konsentrasi-waktu telaprevir di bawah kurva (AUC0-12) tingkat meningkat sebesar 19%, dengan konsentrasi maksimum obat (Cmaks) meningkat sebesar 19% dan konsentrasi minimum (Cmin) sebesar 12%. Waktu paro waktu obat tidak berubah (12 vs 11 jam).

AUC0-12 atazanavir meningkat sebesar 39%, Cmaks meningkat sebesar 19% dan Cmin sebesar 48%. Namun, paro waktu atazanavir berkurang 22,6-10,4 jam.

“Ritonavir bertanggung jawab untuk interaksi merugikan yang terjadi antara telaprevir dan [atazanavir/ritonavir bila digunakan secara bersama-sama, kemungkinan dengan memengaruhi fase penyerapan metabolisme lintas pertama dari telaprevir”, tulis para peneliti.

Mereka percaya penelitian mereka memiliki makna klinis yang sangat penting, dengan mencatat bahwa konsentrasi plasma dari telaprevir terkait dengan hasil pengobatan. Demikian pula, konsentrasi Cmin telaprevir terkait dengan peningkatan risiko anemia. “Telaprevir akan menjadi calon yang kuat untuk pemantauan obat terapeutik jika jangkauan obat tersebut diketahui,” para peneliti menyarankan.

Mereka menyimpulkan, “penggunaan bersamaan dari telaprevir dan atazanavir yang tidak dikuatkan dengan ritonavir memberikan peningkatan pajanan telaprevir dan atazanavir dibandingkan jika digunakan dengan ritonavir.”

Ringkasan: Ritonavir the cause of the interaction between telaprevir and ritonavir-boosted atazanavir

Sumber: Gutierrez-Valencia A et al. Role of atazanavir in the drug interactions between telaprevir and ritonavir-boosted atazanavir. Clin Infect Dis, online edition: DOI: 10.1093/cid/cit693, 2013.